Blog

DIALOG DISTANHORBUN DESA WISATA PERTANIAN 2 JUNI 2020

Pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang berbasis pada alam, budaya, heritage, sosial dan ekonomi sarat dengan kompleksitas yang melibatkan wisatawan maupun masyarakat lokal yang bertindak sebagai tuan rumah (host country). Konsekuensinya, pelestarian dan perlindungan terhadap lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua,  khususnya pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata sebagai industri (Yoeti, 2008 : 238-239), karena pertumbuhan pariwisata sebagai suatu industri harus mempertimbangkan adanya jaminan sumber daya pariwisata tetap terpelihara dan masih bisa dinikmati generasi penerus di masa yang akan datang. Sedangkan akibat dari dampak negatif industri pariwisata semakin memprihatinkan seperti pembangunan akomodasi diwilayah konservasi hutan seperti villa-vila liar di Puncak Bogor, kemacetan lalu-lintas di kota Bandung pada hari libur akibat masuknya wisatawan dari luar kota, terjadinya urbanisasi yang bisa menyebabkan pembangunan desa menjadi terhambat karena banyak warganya lebih memilih pekerjaan di kota daripada di desanya sendiri.

Salah satu dari upaya mengurangi dampak negatif industri pariwisata yaitu dengan cara membangun destinasi-destinasi baru yang berpotensi menjadi daya tarik wisata tentu tujuan utamanya adalah mengembangkan ekonomi masyarakat serta melestarikan sumberdaya alam dan budaya untuk generasi yang akan datang (sustainable tourism), pengembangan Destinasi Wisata ini bisa dimulai dengan mengembangkan pariwisata daerah dari unit terkecil yaitu wilayah desa atau pedesaan, hal ini dikarenakan desa merupakan tempat sebagian besar atraksi wisata berada. Pengembangan desa (rural) sebagai pembangunan pariwisata yang berkelanjutan bisa diwujudkan dengan mengubah desa tersebut menjadi Desa Wisata, bukan sembarang desa tetapi desa yang memiliki keunikan yang khas berdasarkan keunggulan potensi wisata yang dimilikinya sehingga bisa menarik wisatawan untuk berkunjung serta dapat mengembangkan masyarakat lokal sebagai komponen utama penggerak dari Desa Wisata tersebut. Hal inilah yang menyebabkan pada tahun 2009 Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Mentri Jero Wacik mengusulkan kepada komisi X DPR periode ( 2009-2014 ) untuk menjadikan Desa Wisata dalam program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Destinasi Wisata. Secara keseluruhan, Kemenbudpar telah mengagendakan pengembangan 104 Desa Wisata diseluruh Indonesia, termasuk salah satunya pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Bogor.